Seri Spiritualisme Kritis

"I have been given simple miracles." A photo with a quotation from my book made by a reader, Angelina Enny.

For English see below

Tampaknya spiritualisme kritis adalah misi yang menghantui saya sejak menuliskan Bilangan Fu (2008). Saya pernah ditanya oleh satu turis Jepang yang menonton saya di Ubud Writers & Readers Festival: apa ajaran spiritual yang saya bawakan. Saya bukan guru spiritual. Yang saya maksud sama sekali bukan pendekatan batin yang menekankan bahasa roh atau bahasa gaib (“bahasa” non bahasa atau non-linguistik). Yang saya ingin gali adalah bagaimana nalar kritis kita bisa terbuka pada sesuatu yang di luar batasnya. Saya ingin mengerahkan kemampuan bahasa untuk menyadari problem dasar keberadaannya. Dan saya ingin melakukannya dengan sumber utama pengalaman Indonesia.

“Keterbukaan” rupanya adalah kata kunci yang penting. Suatu malam sehari setelah Natal 2013 saya bermimpi. Mirip yang diceritakan dalam Bilangan Fu, dalam mimpi itu kita dapat mengerti sesuatu terang benderang tetapi ketika bangun pengertian itu hilang. Hanya ada sedikit ekornya tertinggal. Yang tersisa itu potongan kalimat berbunyi “rumusan yang tidak menutup”.

Pembaca saya umumnya bukan pemaham filsafat. Saya merasa panggilan utama saya adalah: 1) menulis cerita yang bisa dirasakan dan difahami oleh pembaca, tanpa harus menjadi terlalu rinci dalam berfilsafat. 2) tidak pergi terlalu jauh ke dunia spiritual sampai-sampai meninggalkan dunia nalar kritis. 3) mengerahkan sumber intelektualitas dan spiritualitas Indonesia.

Sudah lama saya ingin memulai Seri Spiritualisme Kritis. Akhirnya buku pertamanya muncul tahun 2014, Simple Miracles, yang bercerita tentang kematian ibu saya...

Critical Spiritualism Series

English

It seems that critical spiritualism is a mission that haunted me since I wrote The Number Fu (2008). A Japanese tourist who listened to my presentation at the Ubud Writers and Readers Festival once asked me: what exactly is your spiritual teaching? Well, I’m not a spiritual guru. I’m not interested in any approach that emphasizes the use of the language of the spirits (the non-linguistic language). What I want to explore is how our critical reason can open up to something beyond its limit. I want to mobilize all power within our language so that through language we are able to understand the foundational problem of language. And I want to do it through Indonesia's experience.

“Openness” seems to be a crucial keyword. On a second night of Christmas in 2013 I got a dream. So close to what I had written in The Number Fu, that in the dream we can comprehend something crystal clear, but once we wake up the comprehension disappears. Only a bit of its tail still can be seen. In my case it was a phrase saying “a formulation which is not closed.”

My readers mostly do not read philosophy. I think my call are: 1)  to write stories which my readers can feel and understand; so, without becoming too elaborative in the philosophical details. 2) to not go too far in the spiritual world (to not leave the level of critical reason). 3) to do this by summoning up the intellectual and spiritual sources of Indonesia.

I had been wanting long enough to write the critical spiritualism series. Eventually the first book of the series appeared in 2014, Simple Miracles, a story about my mother’s death...

  • Simple Miracles, 2014

    (non-fiksi)
    Adalah buku pertama dalam seri Spiritualisme Kritis. Seri ini hendak mengundang adanya sikap kritis namun terbuka, melalui kisah-kisah sederhana. Simple Miracles adalah kisah nyata satu keluarga: satu anggotanya dapat berkomunikasi dengan arwah, seorangnya lagi berusaha bersikap kritis namun terbuka terhadap gejala itu. Suatu hari, si pelihat menyebutkan jadwal wafat ibunda tercinta, yaitu pukul delapan tiga hari depan. Buku ini bercerita tentang keajaiban-keajaiban sederhana berkenaan dengan doa, kematian, dan arwah; serta bagaimana nalar mencoba memaknainya.

  • Simple Miracles

    (non-fiction)
    is the first book in the Critical Spiritualism series. The series is intended for bringing up critical yet open-hearted self-questioning through easy-reading stories. Simple Miracles is a true story of a family. One of its members has the ability to connect with the spirits, the other one tries to keep critical about the phenomena. One day the seer speaks about the time of death of their beloved mother: eight o'clock on the next third day. This book tells about simple miracles related to prayer, death, and spirits; and how reason tries to make sense of them.

Others; Lainnya

  • Estetika Banal & Spiritualisme Kritis


    (pemikiran seni)
    Dialog Fotografi & Sastra dalam 13 Keping. Ini adalah buku pemikiran saya dan fotografer Erik Prasetya mengenai kesenian (fotografidan sastra). Ada titik-titik temu antara pendekatan kami, Estetika Banal (Erik Prasetya) & Spiritualisme Kritis (saya).

  • Banal Aesthetics & Critical Spiritualism

    (art critique)
    A Dialogue of Photography & Literature in 13 Fragments. This is a book about our thoughts on the arts (photography & literature). There are meeting points between our personal approaches, Banal Aesthetics (Erik Prasetya) and Critical Spiritualism (of mine).

  • Menulis & Berpikir Kreatif cara Spiritualisme Kritis

    (panduan)
    Setelah 20 tahun lebih menulis dan mengajar, saya sampai pada kesimpulan begitu pentingnya keseimbangan antara kebebasan dan struktur.
    Kreativitas sejalan dengan spiritualitas dalam merkea bersumber pada yang tak terbatas. Untuk mengenali yang tak terbatas itu kita memerlukan struktur yang terbuka.

  • A Critical Spiritualist Handbook to Creative Writing & Thinking

    (how-to)
    After more than 20 years of writing and teaching I came to realise the imperative of the balance between freedom and structure.
    Creativity is comparable to spirituality in a sense that their resource is the infinite. To be able to make sense of the infinite we need an open structure.

If you find the English version wrong... correction is welcome. Please send it here.