A "sun well" is a source of nature's energy put at the center of a house.

Frequently asked questions about a workplace

for English see below

 

Seperti apakah tempat kerjamu?

Saya jenis orang yang memerlukan energi matahari, terutama matahari pagi. Karena itu saya membangun rumah dengan sedikit lahan terbuka di tengah, sehingga semua ruang mendapatkan cahaya dari sana. Ini tidak umum di Indonesia. Kemudian hari saya mendengar ada istilah untuk itu di sebagian suku di Asia Timur: Sumur Matahari. Konsepnya adalah adanya sumber energi dari langit dan bumi untuk rumah.

Banyak rumah di Indonesia yang sangat tertutup. Mungkin ini sisa kebiasaan masyarakat tropis di masa lalu ketika alam masih luas dan kaya. Rumah tradisional hanyalah tempat tidur dan berteduh. Kegiatan lainnya dilakukan di luar rumah: bertani, menangkap ikan, bermain bersama di bawah sinar purnama. Bahkan buang air juga di sungai. Sekarang kebanyakan manusia hidup di kota. Kota telah padat oleh bangunan dan tak banyak taman publik di Jakarta. Menyedihkan. Pola hidup telah berubah, tapi kota belum menyesuaikan diri. Saya jadi harus menghadirkan daerah hijau di ruang privat. Meja kerja saya menghadap ke taman kecil di dalam rumah.

Apa yang diperlukan untuk proses kreatif?

Saya hanya perlu tempat di mana ada sinar matahari pada siang, atau melihat langit dan syukur-syukur bulan di kala malam. Saya perlu ruang yang cukup privat tetapi tetap dekat dengan alam dan masyarakat; sebab saya banyak menulis tentang alam dan masyarakat. Saya tak pernah merasa perlu menyendiri ke vila atatu tempat sepi. Tempat-tempat itu mungkin malah membuat saya tidak bisa berkarya. Karena itu saya tidak berminat dengan fellowship penulisan yang menjauhkan saya dari tanah air.

Apa yang kamu dengarkan saat menulis?

Saya tidak pernah menyetel musik saat menulis. Rumah saya terbuka. Jadi musik hanya akan bersaing dengan suara sekitar. Saya mendengar bunyi-bunyian yang datang pergi: jeritan anak kecil, penjual eskrim, penjual roti, pengamen Jawa atau dangdut, pengajian dan khotbah mesjid. Kicau burung, yang terbang bebas maupun yang dikerangkeng.

Bagaimana kamu mengelola nyamuk dan udara gerah di tempat kerja yang terbuka?

Pertama, dengan menerima bahwa saya hidup di negeri tropis. Di sana selalu ada sumuk dan nyamuk. Tak sepanjang tahun ada gerah dan serangga. Dalam setahun, mungkin jika disatukan ada tiga puluh harian di mana nyamuk begitu banyak. Pada hari-hari itu saya mengoleskan minyak kayu putih ke kulit, dan menulis sambil memainkan raket nyamuk. Ada juga hari-hari yang sangat panas. Di saat-saat begitu saya pakai baju katun terbuka dan mandi lebih sering. Saya mencoba tidak pakai AC. Kami tidur dengan jendela terbuka dan kelambu. Sayang, orang Indonesia sekarang sudah lupa pada kelambu dan lebih suka pakai AC serta obat nyamuk.

Orang modern di kota makin senang mengganti daripada memperbaiki furnitur, tapi saya menyukai rumah yang menampung barang bekas dan tak mulus. Mengingatkan saya pada kehidupan desa. Berita lebih lengkap di: Tabloid BintangHome, edisi 27 Agustus 2016. Foto: Arno Santosa.

English

How does your workplace look like?

I’m the kind of person who needs energy from the sun. I really love the morning sun. I have my house built with a bit of an open space in the center, so that all rooms can get light from there. This is not very common in Indonesia. Now I heard that some traditional societies in East Asia have a name for it: sun well. The concept is to have a source of energy from the sky and the earth to be channeled throughout the house.

Many houses in Indonesia are very closed. This is probably a trace of a long practice of  living in the tropics when the nature was still lavish. A vernacular house was a place to sleep and shelter. Other activities took place outdoor, like working in the field, fishing in the ocean, drying the rice in the sun, playing under the moon. And also toileting on the river. Now, the bigger proportion of the population live in the cities. Cities have become very dense. There are not many public parks in Jakarta. So sad. The living pattern has changed, but the city can not cope with it. I need to bring a bit of greenery in my private space. My desk is facing the small patch of open space in the center of my house.

What do you need for your creative process?

I just need a place where there is sunlight during the day, or where I can see the sky and the moon—if I’m lucky—at night. I need a private corner that will keep me in affinity with natures and my society; because I write a lot about them. I’ve never felt that I need to isolate myself in a quiet villa in the mountain or on the shore. Those places are nice but probably I would not be able to write there. I’m not very interested in opportunities for a writing fellowship program that will distance me from my country.

What do you listen when you write?

I never play any music when I write. My house is rather open. Music will only compete with the soundscape. I hear different voices that fade in and out: children's laughter, jingles of the ice cream man  or the bread seller, street musicians singing dangdut or Javanese songs, the Quran recital or preaching from a nearby mosque. The singing of birds, some of them are free, some others are caged.

How do you cope with mosquitos and the humid weather in an open workplace?

Firstly by accepting that I live in a tropical land. There will always be problems of humidity and mosquitos. Heat, humidity, and mosquito attack do not take place at all times along the year. In a year, probably there will be thirty days altogether that you get the mosquito attack. On that days I will smear cajuput oil on my skin, and I can write while also play the mosquito racket. There are also very hot days. I’ll wear short cotton clothes and take a shower more often. I try not to depend on the air conditioner. We sleep with windows opened and we use mosquito net. It is sad that most Indonesians nowadays have forgotten the good of mosquito net, and they prefer to put on the chemical repellent.