I’m an Indonesian author. This picture was taken on a mountain in Java that was sacred in ancient times, Mt. Penanggungan (Mt. Suffering), where I was researching some of my books.

Introducing My Indonesia: Critical Spiritualism

untuk Bahasa Indonesia lihat di bawah

Welcome to my website.

How do you picture Indonesia? A faraway land surrounded by water. A tropical country with 17,000 islands, beaches facing a warm blue ocean, coconut trees waving in the wind, and thin people dancing to the mysterious rhythms of the gamelan? Or do you think of terrorist suicide bombs, piles of waste, corruption, hypocrisy, the uncertainty of business negotiations?

My Indonesia is all of that—much to get excited about, much to be uncomfortable with—but also full of hidden treasures in the stories to be excavated. Universal stories of humanity from the periphery of the world, if you like. Those are the stories I try to share in my books.

Indonesia is the country with the most islands and volcanos. It has the fourth largest population and the largest Muslim community, not to mention the third most Twitter users in the world. Unfortunately, it is also one of the countries with a high level of corruption. Democracy is still in its infancy here. We left behind the military regime in 1998. Our middle class has been growing very fast since then.

The archipelago that is now Indonesia has always been a melting pot of cultures. That mixture—of both good and bad—helps form the character of the islands’ people.

I am an author, writing in the Indonesian language, which some foreigners like to call Bahasa (but actually bahasa simply means “language”). It grew from the Malay language and, thanks to the historical accident of colonialism, it has become independent, enriched by the structures and vocabularies of the native languages of our country’s islands, especially the languages of Java and eastern Indonesia. I love that blend of languages.

I was born into a family of the largest ethnic group in Indonesia (Javanese), but of a minority religious group (Catholic). I never felt the need to mention my faith when I introduced myself to foreigners until about ten or fifteen years ago. Strange, but that is a frequently asked question nowadays. It probably relates to the rising number of global terrorist attacks as well as to the increasing pressure on minority groups in Indonesia. A few incidents of discrimination have made me decide to define my identity as a statement of solidarity—not a choice I like very much. I long for a society where we won’t have to make statements of identity.

If there is a main theme I would like to introduce to my readers or promote through my writings and programs, it would be “critical spiritualism.” I learned about the concept of critical spiritualism from the dialectic between reason and the Javanese rasa, which can mean a variety of things, including feeling, essence, or hidden meaning.

This site provides an overview of my books, classes (programs), and opinions on several basic questions that have frequently been asked by foreign journalists or by Indonesian students researching my work. If the English text appears at the top of the page, the text is intended more for foreign readers. You may find different articles on the same topic in the Indonesian and the English version, given the differences in perspective and level of information of local and foreign readers.

On Critical Spiritualism

Critical spiritualism is a theme I introduce since 2008 (The Number Fu).

Memperkenalkan Indonesiaku: Spiritualisme Kritis

Bahasa Indonesia

Selamat datang di situs sahaja ini.

Apa bayangan kita tentang Indonesia? Suatu tanah dan air yang begitu jauh dari pusat dunia. Sebuah negeri tropis dengan 17.000 pulau, pantai dengan laut biru yang hangat, nyiur melambai, gunung api, penduduk yang menari dalam iringan gamelan? Atau bom bunuh diri teroris,  tumpukan sampah, korupsi, kemunafikan, dan ketidakpastian perjanjian bisnis?

Indonesia adalah semua itu. Kita bisa merasa sangat asyik atau sangat tidak nyaman berada di sana. Apapun, ada kekayaan cerita tersembunyi di sana. Cerita yang universal ikhwal manusia dari pinggiran dunia, mungkin. Kisah-kisah itulah yang saya coba tawarkan dalam buku-buku saya.

Indonesia adalah negeri dengan pulau serta gunung api terbanyak, penduduk terpadat keempat, warga Muslim terbesar, pengguna twitter kedua atau ketiga terbanyak di dunia. Sayangnya, Indonesia juga salah satu negara terkorup. Demokrasi masih bayi. Indonesia meninggalkan rezim militer pada tahun 1998. Kelas menengah berkembang pesat sejak itu.

Nusantara selalu merupakan tempat peleburan budaya-budaya. Percampuran, dalam sisi baik dan buruknya, adalah karakter masyarakat di kepulauan ini.

Saya seorang pengarang, menulis dalam Bahasa Indonesia. Bahasa yang bertumbuh dari Bahasa Melayu, dan berkat kebetulan sejarah penjajahan ia menjadi bahasa mandiri, diperkaya oleh struktur dan kosakata bahasa-bahasa Nusantara, terutama Jawa dan juga Indonesia Timur. Percampuran ini adalah hal yang menyenangkan bagi saya.

Saya lahir dalam keluarga dari komunitas etnis yang besar tapi kelompok agama yang kecil (Jawa, Katolik). Dulu, sampai kira-kira sepuluh tahun yang lalu, identitas agama rasanya tak perlu disampaikan jika saya memperkenalkan diri pada orang asing. Aneh, tapi sekarang hal itu agak sering ditanyakan. Ini rasanya berhubungan dengan meningkatnya terorisme global, juga tekanan pada minoritas di Indonesia. Beberapa kasus diskriminasi memang membuat saya jadi menegaskan identitas saya sebagai pernyataan solidaritas—sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu menyenangkan. Saya merindukan suatu masyarakat di mana kita tidak harus menggariskan identitas kita.

Jika ada tema pokok yang saya ingin perkenalkan pada pembaca atau saya promosikan dalam program saya, itu adalah "spiritualisme kritis" yang saya pelajari dari dialektika antara akal dan rasa.

Situs ini memperkenalkan buku dan program (kelas) saya serta memuat ringkasan pendapat saya mengenai beberapa hal yang kerap ditanyakan oleh wartawan asing maupun mahasiswa Indonesia yang sedang menulis tugas kuliah tentang buku-buku saya. Jika artikel Bahasa Indonesia diletakkan di awal, berarti tulisan itu berangkat dari pertanyaan orang di Indonesia. Versi Indonesia dan Inggris tidak selalu sama, mengingat ada perbedaan perspektif dan tingkat informasi di antara pembaca lokal dan asing.

If you find the English version wrong... correction is welcome. Please send it here.